Merasa Tak Puas, Eric Minta Uangnya Dikembalikan

IMG 20200222 WA0037

BARUKETIK.COM, KENDARI – Pada hari rabu tanggal 27/11/2019 Ignatius Herry Prasetyo (Eric) bertindak sebagai PT Citra Mandiri Persada Pratama (CMPP) dengan Rita Juwita Sawalia, telah mengikatkan diri dalam suatu perjanjian jual beli sebidang tanah dan bangunan dengan Nomor : 004/CMPP-RIS/II/2020 sertifikat Hak Milik Nomor 00658 Kelurahan Mokoau, Kecamatan Kambu, Kota Kendari.

Letak tanah tersebut berada di jalan Orinunggu, Lorong Koropu No. 15, Surat Ukur tanggal (26/10/2010) nomor : 240/Mokoau/2010 dengan Iuas tanah 639 m2 (enam ratus tiga puluh Sembilan meter persegi) atas nama pemegang hak Rita Jumri Sawalia.

Dalam keterangannya Eric, melalui kuasa hukumnya Zion Natongan Tambunan S.H, M.H didampingi divisi legal PT CMPP, Hasriani Hasan mengatakan bahwa klien saya Eric melakukan perjanjian jual beli sebidang tanah dan bangunan tanggal 27 November 2019 lalu, dengan ibu Rita Jumri Sawalia senilai Rp. 1.900.000.000 (satu milyar sembilan ratus juta) rupiah.

Diketahui Rita Jumri Sawalia ini adalah istri Mansur, mantan Kepala Dinas Pertanian Provinsi Kendari era Gubernur sebelum ini.

“Klien saya sudah melakukan pembayaran secara bertahap. Tahap Pertama pembayaran sebesar Rp. 350.000.000 (tiga ratus lima puluh juta), Tahap Kedua, pelunasan dengan perjanjian akan dibayarkan ketika dilakukan Pencairan Kredit Bank atas nama PT CMPP dengan jaminan serifikat Rita Jumri Sawala sebagai penambahan Cash Colateral pada Credit Line PT CMPP, hal ini dibuktikan dengan masuknya ibu Rita sebagai pemilik saham PT CMPP membeli saham klien kami, sudah ada di akta notaris bahkan telah terdaftar di kemenkumham karena akfa tersebut telah ditanda-tangani oleh para pihak” ungkap Zion kepada Sentralsultra.id, Sabtu, (22/2/2020).

IMG 20200222 214201

“Tanggal 28 Januari 2020 klien saya kembali melakukan itikad baik dengan membantu memenuhi permintaan tambahan pembayaran kepada ibu Rita, sejumlah Rp.150. 000.000 (seratus lima puluh juta rupiah) dengan memberikan sejumlah dana ditahap awal sebesar Rp. 50.000. 000 (lima puluh juta) yang dimana sisanya akan ditambahkan oleh klien saya pada tanggal 1 Februari 2020 sebesar Rp.100.000.000 (seratus juta rupiah), setelah pihak pertama menyerahkan sertifikat aslinya sebagai jaminan uang muka akibat dari berkas atas nama pihak pertama tidak lolos BI Checking. Hal ini adalah langkah awal sambil mencari solusi atas permasalahan cara pelunasan rumah ini lantaran pihak pertama tidak jujur diawal terkait hutang-piutang, yang salah satunya menyebabkan sertifikat rumah tersebut menjadi jaminan. Namun sejak tanggal 1 februari 2020, ibu Rita tidak memberikan sertifikat tersebut kepada klien saya hingga saat ini.

Berdasarkan pendapat hasil diskusi keluarga dari pihak Ibu Rita, yang berprofesi sebagai PNS lingkup Dinas Pertanian Konawe itu, tidak menyetujui solusi awal atas sistem pembayaran pelunasan yang diajukan klien saya, bahkan tidak juga menunjukkan itikad baik dengan memberikan solusi lain guna mengatasi permasalahan ini.

“Tanggal 7 februari 2020 kami mengirimkan surat kesepakatan bersama pembatalan perjanjian yakni, pada tanggal 8 februari 2020. Pihak Pertama menelpon kami untuk memberitahukan bahwa ada beberapa point tidak menyetujui yang tertuang dalam surat pembatalan perjanjian jual beli tersebut dan akan merevisi surat pembatalan suratnya. Selasa, 11 Februari 2020 kami kembali menanyakan kepada pihak pertama dengan menanyakan kepastian pengembalian uang muka atas jual beli sebidang tanah dan bangunan, akan tetapi pihak pertama tidak dapat memberikan kepastian kapan pengembalian uang klien kami yang sudah dipakai dan digunakan oleh ibu Rita, yang setelah diusut uang muka klien kami tersebut dipakai untuk melunasi kredit dan menebus sertifikat rumah yang alih-alih diketahui dijaminkan kepada salah satu bank BUMN. Kenapa diawal harus bohong?,” bebernya.

“Saya selaku kuasa hukum Eric menegaskan kepada ibu Rita tolong beritikad baik dan bertanggung jawab terhadap uang yang sudah diterima dan dipakai ibu Rita, karena klien kami sudah melakukan kewajibannya membayarkan uang muka dan bantuan tambahan diluar perjanjian dengan total sebesar Rp. 400.000.000 (empat ratus juta rupiah). Akan tetapi dalam hal ini klien kami tidak mendapatkan jaminan akan haknya berupa sertifikat rumah yang sudah disepakati dalam perjanjian jual beli tersebut, dan ini menjadi somasi terbuka kepada pihak ibu Rita agar memberikan kepastian dan pengembalian uang klien kami, secara de facto dipakai buat bayar hutang.”

“Dalam jangka waktu 3 hari Kedepan, apabila hal ini tidak diindahkan maka kami selaku kuasa hukum klien kami akan melakukan upaya hukum baik pidana dan upaya hukum perdata,” pungkas Zion.

Sementara itu, menurut ibu Rita yang dikonfirmasi dirumahnya, dalam berkomunikasi tentang jual beli rumahnya tersebut orangnya pun berbeda-beda. Munculnya cash Colateral PT CMPP itupun tidak dicantumkan dalam perjanjian sebelumnya.

“Dalam kontrak jual beli itu tidak ada. Tiba-tiba disodorkan Cash Colateral itu. Setelah saya pelajari kamipun menolaknya,” ungkapnya.

Sayapun menolak dengan adanya perjanjian tersebut. Dalam perjalannya setelah pihak Eric memberikan uang sebesar Rp 400 juta sebagai sebagian uang untuk membeli rumah tersebut, mereka lalu meminta pihaknya untuk malakukan balik nama sertifikat.

“Kami tidak menyetujui adanya Cash Colateral itu. Itu tidak ada dalam perjanjian yang kami tanda tangani sebelumnya,” ujar suami Rita Mansur

Alhasil, Rita mengaku perjanjian tersebut belum batal. Ia pun menegaskan siap mengembalikan uang tersebut. Pihak Rita pun menampik dikambing hitamkan dalam pemutusan jual beli rumah senilai Rp 1,9 Miliar tersebut.

“Kalau tidak jadi dibeli kami siap kembalikan uangnya. Hanya kalau diminta saat itu juga tidak mungkin, nanti tunggu rumah kami laku. Lagi pula kan belum selesai bulan Februari 2020. Kalau kami dituduh yang membuat putus kesepakan jual beli itu kami menolak. Justru pihak Ericlah yang minta untuk diputuskan,” jelasnya.

Pihak Rita pun mengaku belum memutuskan proses jual beli tersebut karena sesuai perjanjian belum sah diputuskan. Kamipun bersedia untuk melanjutkannya kembali.

“Kalau mereka sudah bayar semua biaya jual belinya saya siap keluar dari rumah ini. Tapi kalau diminta sertifikatnya, terus belum selesai dibayar semuanya jelas saya tidak mau,” tegasnya.

Laporan: Tim
Editor: Redaksi

You May Also Like

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *